KONSUMTIF DI BULAN RAMADHAN MEMBUAT HARGA SEMBAKO MELONJAK
Saat ini sudah menjadi sebuah tradisi di negeri kita bahwa setiap menjelang bulan Ramadhan, harga sembilan bahan pokok selalu melonjak. Hal ini membuat berbagai kalangan masyarakat mengeluh karena naiknya harga tidak diikuti dengan naiknya daya beli atau pendapatan. Ini diakibatkan karena tingginya angka kebutuhan sembako di bulan Ramadhan. Secara logika, kenyataan ini agak aneh di mana pada bulan Ramadhan, waktu makan hanya dua kali sehari yaitu saat berbuka dan sahur. Sementara di luar bulan puasa, umumnya orang makan tiga kali sehari. Tapi kenapa angka kebutuhan sembako di bulan puasa ini justru bertambah? Tentu saja hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Muslim yang jutru semakin konsumtif di bulan Ramadhan. Bukannya mengurangi, malah menambah menu dan porsi makanan. Padahal di bulan suci ini, kita dianjurkan untuk lebih mengencangkan ikat pinggang dan mengambil hikmah dari berpuasa yang salah satunya adalah berbagi atau peduli kepada fakir miskin. Kita sebaiknya memperbanyak sedekah karena sedekah di bulan Ramadhan lebih tinggi derajatnya daripada bulan-bulan lainnya sebagaimana Rasulullah telah mencontohkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa kedermawanan Rasulullah itu melebihi angin yang berhembus.
Kita lihat saja pasar-pasar kaget yang digelar pada bulan Ramadhan, luar biasa pengunjungnya. Terutama pasar yang menyediakan santapan buka puasa. Yang namanya orang lagi berpuasa, besar sekali keinginan untuk menyantap berbagai menu makanan. Sehingga bagi yang merasa mampu untuk membuat atau membeli menu makanan dalam jumlah yang banyak, tentu bukan hal yang sulit. Tapi setelah berbuka, kenyataannya berbeda. Selera makan justru berkurang sehingga tinggallah makanan yang telah disediakan tadi sampai basi. Bukankah ini merupakan hal yang berlebihan? Bukankah lebih baik jika kelebihan itu kita sumbangakan kepada fakir-miskin, anak yatim dan panti asuhan yang memang selalu kekurangan?
Tetapi di pihak lain, ada juga yang selera makannya justru meningkat di bulan puasa. Sehingga muncul istilah balas dendam setelah berbuka. Puasa yang seharusnya bisa menyehatkan karena akan menurunkan kadar kolesterol, kadar gula, gangguan pencernaan dan kegemukan ternyata malah semakin memperparah karena pola makan dan porsi makan yang tidak dijaga dengan baik.
Kegiatan-kegiatan buka puasa bersama juga marak dilakukan saat bulan Ramadhan. Baik oleh instansi Pemerintah, Swasta maupun pribadi. Sebenarnya ini adalah hal yang positif karena memberi buka puasa kepada orang berpuasa pahalnya besar. Tapi sayangnya, jarang melibatkan orang-orang yang tidak mampu. Kebanyakan acara-acara tersebut digelar hanya untuk kepentingan tertentu seperti menarik hati para tokoh-tokoh yang berpengaruh, menarik hati para pelanggan dan promosi.
Nah kebiasaan-kebiasaan di atas membuat angka kebutuhan sembako meningkat drastis. Meningkatnya angka kebutuhan selalu diikuti dengan naiknya harga. Sehingga hal ini mempengaruhi melonjaknya harga sembako di bulan Ramadhan. Kalau saja seluruh umat Islam di Indonesia mau berubah dengan dengan lebih mengencangkan ikat pinggang, meningkatkan ibadah, meningkatkan empati sosial dan tidak berlebihan di bulan puasa yang suci ini, saya yakin persoalan meningkatnya harga sembako di bulan Ramadhan akan lebih kecil karena Allah akan menurunkan berkah yang banyak.(kml)





